Current Affairs

Pengertian Catcalling dan Dampaknya Terhadap Mental Korban

Baru-baru ini sedang viral di sosial media tentang turis perempuan yang di catcalling oleh seorang sopir taksi di daerah Jakarta Selatan.

Si sopir meneriakkan “Very nice babe,” berekali-kali sambil tertawa.

Meskipun telah berujung damai, tetapi FN, inisial pelaku catcalling tetap dipecat sebagai sanksi dari tindakannya.

Kalau begitu, apa sih sebenarnya catcalling itu? 

Menurut Urban Dictionary, catcalling adalah komentar kasar bersifat seksual oleh laki-laki kepada perempuan yang lewat di jalan. Catcalling biasanya tentang bagian tubuh perempuan.

Saat berbicara tentang catcalling, ada dua poin penting, yaitu catcalling juga termasuk bersiul, klakson, atau tindakan lainnya yang bersifat melecehkan. Jadi, bukan hanya tentang komentar buruk saja.

Kedua, semua orang bisa menjadi korban catcalling, baik laki-laki atau perempuan. Namun, gak dipungkiri kalau korban catcalling biasanya adalah perempuan.

Beberapa komentar yang termasuk catcalling adalah “hai cantik,” “sini abang temenin,” “mau kemana neng, sendiri aja,” dan masih banyak lagi.

Kebanyaikkan pelaku catcalling bersembunyi di balik alasan memuji. Padahal, kedua hal tersebut sama sekali berbeda.

Catcalling lebih merupakan tindakan pelecehan seksual verbal yang mengintimidasi korban dan terkadang disertai maksud yang tidak baik dari pelaku.

Apakah catcalling bisa berdampak ke kesehatan mental korban?

Kekerarsan seksual verbal, ini bisa berdampak buruk pada kesehatan mental, fisik, hingga pekerjaan korban dalam jangka pendek maupun panjang.

Dilansir dari cnn.com, dalam jangka pendek, korban mungkin merasa marah, malu, terancam, dan takut. Gak dipungkiri juga catcalling bisa menimbulkan trauma.

Dalam modernintimacy.com juga mencatat kalau Catcalling berhubungan dengan peningkatan ketakutan dan persepsi risiko pemerkosaan. 

Jadi, dampaknya bisa sangat berbahaya ketika segerombol laki-laki melakuka catcalling pada perempuan yang sedang jalan sendirian.

Catcalling juga berhubungan dengan objektifikasi diri perempuan. Hal tersebut bisa membuat perempuan korban catcalling merasa malu dan cemas dengan penampilannya. 

Selain itu, objektifikasi diri juga dikaitkan dengan kesehatan mental yang buruk, termasuk gejala depresi dan gangguan makan, bahkan dikaitkan dengan penurunan produktivitas terutama di tempat kerja.

Itulah pengertian catcalling dan bagaimana dampaknya terhadap mental korban. 

Lalu bagaimana kalau Lo dicatcalling? Yang paling penting adalah memastikan keselamatan Lo terlebih dahulu.

Saat dicatcalling, Lo bisa mencoba menatap kembali pelaku lalu terus berjalan. Biasanya hal ini cukup membuat pelaku sadar akan apa yang ia lakukan dan berhenti.

Hal lain yang bisa Lo lakukan juga adalah dengan muali melakukan hal-hal aneh yang gak terduga, misalnya mulai menggonggong ke pelaku, ya benar, menggonggong seperti anjing. Atau mulai nyanyi lagi Spongebob.

Kalau Lo adalah perempuan dan sering berpergian malam hari sendiri, maka akan lebih baik kalau Lo membawa alat perlindungan diri sendiri, seperti pepper spray, alarm, atau alat bela diri lainnya.

Catcalling bisa menjadi pengalaman yang menakutkan. Selalu ingat kalau catcalling terjadi bukan salah Lo bagaimanapun situasinya.

Related posts
Current AffairsLifestyle

Mindblown Toys yang Sold Out di Comic Con Indonesia Hadir Kembali

Current AffairsLifestyle

KAWS: HOLIDAY Indonesia, Sang Seniman Sempat Berkunjung ke Art Jog 2023

Current Affairs

Mattel Cari Orang Buat Main Uno, Bayarannya Rp 270 Juta

Current AffairsFood For Thoughts

Peraturan Revenge Porn Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *